oleh

BIOGRAFI SYEKH AHMAD BIN MUHAMMAD AT TIJANI AL HASANI RA

-Agama-1.191 views

Biografi Syaikh; Sang ahli hakikat dan penutup
para wali; Sayyidi Abul Abbas Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra.

Beliau adalah Sayyidi Abu Al Abbas Ahmad bin Muhammad bin Al Mukhtar bin Ahmad bin Muhammad bin Salim bin Al lid bin Salim bin Ahmad bin Ahmad bin Ali bin Abdullah bin Al Abbas bin Abd Al Jabbar bin Idris bin Ishaq bin All Zainal Abidin bin Ahmad bin Muhammad bin Hasan Al Mutsanna bin Al Hasan As-Sabt bin Ali bin Abi Thâlib, suami dan Fathimah Az-Zahra ; penghulunya wanita penghuni surga; yang juga merupakan putri Rasulullah Saw.

Beliau termasuk keturunan Nabi yang mulia, pemilik Futuh Al Mubiin: sossoknya memiliki kedudukan yang tinggi, sang wali quthb yang tersembunyi dan sosok Imam yang mulia.

Suatu ketika pernah ada yang bertanya kepada beliau, ” Apa kelak akan ada seseorang yang berbohong atas namamu?,” Beliau menjawab , ” iya, maka jika kalian mendengar sesuatu dariku, timbanglah itu dengan secara syariat, jika itu sesuai dengan syariat, maka amalkanlah, namun jika itu bertentangan dengan syariat, maka tinggalkanlah.”.

BIOGRAFI SYEKH AHMAD BIN MUHAMMAD AT TIJANI AL HASANI RA

Gambaran amaliyah seseorang yang tidak mengikuti syariat, maka sejatinya dia tidak akan pernah bisa wushul kepada Allah, Ada sebuah kaidah yang menyatakan, bahwa orang yang meninggalkan ushul (Al- Qur’an dan Hadits), maka dirinya tidak akan pernah bisa wushul kepada Allah. Sungguh orang yang tidak mengikuti syariat, maka dia pun tidak akan pernah dapat mencium semerbak wanginya bau pangkat kewalian sama sekali.

Sekalipun dalam perjalanan ruhani, Syaikh Ahmad bin Muhammad At- Tijany pernah merasakan lapar, haus, tidur dan begadang malam serta turut merasakan rasa takut,namun perlu diketahui, bahwa thariqah beliau ini merupakan thariqah yang murni dalam rangka melepaskan jiwa dari daya dan upaya yang dimiliki manusia, memurnikan tauhid kepada Allah, dan berusaha selalu menghadirkan jiwa dalam setiap beribadah. Bentuk thariqah semacam ini tak lain karena selalu berporos pada sisi Rububiyyah Allah semata.

Thariqah beliau ini merupakan thariqah tauhid, baik dalam sifat, hukum, maupun beragam kondisi jiwa di dalamnya. Thariqah ini juga merupakan perwujudan syariat dari segi dzahir dan bathin. Selain itu, thariqah ini pun merupakan bentuk penyaksian sisi ketuhanan secara khusus.

Makam SYEKH AHMAD BIN MUHAMMAD AT TIJANI AL HASANI RA

Syaikh Ahmad bin Muhammad At- Tijany merupakan sosok yang menguasai ilmu syariat dan hakikat, menguasai beragam dalil, sosok yang selalu berpedoman kepada Al – Qur’an dan As- Sunnah serta sosok yang memiliki dua metode dalam mentarbiyah para muridnya. Beliau selalu mengikuti tuntunan baginda Nabi Muhammad SAW, bahkan beliau mampu menggapai semua kedudukan yang ada, terkecuali kedudukan seorang nabi yang mustahil digapai oleh sang wali sekalipun.

Manusia sejatinya memiliki Syaikh (seorang guru), begitu juga dengan jin dan malaikat, dimana Syaikh Ahmad bin Muhammad At- Tijany adalah dari semua itu.

Allah SWT memang telah menganugerahkan beliau segalanya; baik berupa kemampuan bertindak di belahan bumi manapun dan pada tingkatan manusia serta pada golongan apa saja, namun beliau tidak menghiraukan semua keutamaan itu dan memilih jalur peribadatan nan murni. Dengan perantara jalur peribadatan inilah, beliau meyakini bahwa karena Allah lah beliau bisa berbicara, lantaran pemberian Allah lah beliau bisa berbagi, dan atas perintah Allah lah beliau dapat melakukan berbagai hal tersebut. Manusia dalam pandangan beliau layaknya sebuah botol kaca, dimana apa yang ada di dalam botol kaca tersebut tercermin jelas di bagian luarnya.

Allah SWT juga memberikan anugerah pandangan batin bagi beliau pada empat sisi: Satu sisi dimana beliau melihat kepada iai dunia, satu lainnya dimana beliau melihat kepada sisi akhiray. Satu sisi lainnya dimana beliau melihat kepada makhluk, dan sati sisi yang terakhir adalah,dimana beliau memandang kepada sisi Al- Haq ( Allah ).

Allah menjadikan beliau sebagai khalifah-Nya di atas bumi, langit dan semua alam lainnya, dimana ada yang mengatakan kepada beliau, seperti yang tertera di dalam Al-Qur’an, ” Sungguh Engkau memiliki kedudukan yang tertinggi lagi terpercaya di sisi kami.”

Terkadang ada perkara luar biasa yang tidak dapat dicerna akal yang terjadi lantaran keberadaan beliau, terkadang perkara itu juga berasal dari diri beliau, begitu pula seperti perkara yang biasanya tidak dapat dilihat oleh seseoramg di dalam mimpi, namun beliau dapat melakukan itu, bahkan Allah SWT pun telah berfirman,
” Dan Allah telah menciptakan apa yang tidak kamu ketahui.” ( Qs. An-Nahl [12]: 8 ).

Namun kita sebagai manusia biasa, tidak dapat mengetahui seluruh informasi dan karunia yang Allah berikan kepada beliau.

Di antara ulama yang menuliskan biografi beliau, selain dari ulama thariqahnya adalah, Syaikh Muhammad Al Basyir Zhafir dalam Al Yawaqit Ats- Tsamaniyah Fi A ‘ yan Madzhab ‘Alim Al Madaniyyah: Sayyidi Ahmad At- Tijany bin Al Mukhtar bin Ahmad bin Muhammad bin Salim yang terkenal dengan Asy- Syarif At- Tijany; sosok qudwah yang sempurna : seorang ‘Arif yang memiliki ilmu yang mumpuni ; menguasai sunnah dan agama; seorang ‘Allamah, sosok yang mengumpulkan antara syariat dan hakikat ; sosok yang sangat langka di zamannya dan dia merupakan lentera zaman.”

Al ‘ Allamah Magrib; Syaikh Al Kattani berkata mengenai beliau: “Beliau merupakan ulama yang mengamalkan ilmunya ; seorang imam mujtahid; orang yang mengumpulkan antara kemuliaan dunia dan agama; ilmu, amal dan keyakinan; memiliki ahwal rabbani nan agung dan maqamat yang tinggi; zhahir dan batinnya kuat; kebaikan dalam dirinya sempurna; sosoknya enak dipandang; perawakannya bagus; jenggotnya bercahaya; wibawanya besar; memiliki kedudukan yang tinggi; namanya banyak disebut orang; namanya terkenal dimana – mana; ahwal dirinya sangat mberikan manfaat; ucapannya mengena, khususnya yang berkenaan dengan bentuk anjuran mengerjakan suatu kebaikan dan mencegah dari perkara yang mungkar. Sejak awal, beliau banyak menyibukan diri dengan menuntut ilmu- ilmu dasar beserta cabangnya dan juga sastra, hingga beliau menguasai semua itu, bahkan beliau dapat menyibak sisi rahasia maknanya.

Nabi SAW memberikan izin kepada beliau untuk mentalqin orang secara umum, tepatnya pada tahun 1196H sosok beliau memiliki segudang kebaikan dan bentuk perubahan ahwal yang sangat banyak, beliau meninggal dunia pada pagi hari kamis, 17 syawwal 1230H, dimana kala itu tidak terhitung bagi ulama, orang shaleh, para petinggi, pejabat dan pemimpin penduduk Fess yang datang melayat jenazah beliau. Beliau dikebumikan di zawiyah yang berada di Humah Al Balidah.

Sedangkan orang yang menulis biografi beliau dari pengikut thariqahnya, sungguh sudah tidak terhitung lagi jumlahnya.

Sayyidi Ahmad Tijani dilahirkan pada tahun 1150H/1737M, di ‘Ain Madhi Al Jazair; tempat para pendahulu beliau. Kakek beliau yang ke empat: Sayyidi Muhammad bin Salim pernah berpisah bersama keluarga dari desa ‘Abdah yang berada di penghujung kota Magrib ke Bani Tijanah dan menikah dengan gadis setempat, sehingga anak cucu keturunannya dikenal dengan “Tijaniyyin.”

Sayyidi Ahmad At – Tijany termasuk keturunan Nabi Muhammad dari jalur Sayyidina Al Hasan. Kala itu beliau tidak menganggap penting silsilah nasab beliau ini sampai suatu ketika terjadinya sebuah kejadian, dimana Rasulullah SAW bersabda kepada beliau secara terjaga dan tidak tertidur, ” Anta walidi haqqan, wa nasabuka Ilaa Al- Hasan bin ‘Ali shahih,” ( Kamu benar – benar anakku, nasabmu kepada Al Hasan bin Ali adalah benar adanya ).

Daerah Ain Madhi merupakan daerah yang menaruh perhatikan besar terhadap sisi keilmuan, tak ayal banyak keturunan Nabi di Maghrib yang membuka zawiyah atau majelis ilmu, begitu pula dengan orang tua dan para kakek Syaikh Ahmad At- Tijany. Zawiyah yang didirikan para leluhur beliau berkiprah cukup lama dalam menyebarkan ajaran Islam beserta ajarannya yang menyentuh ruhani dan mencakup beragam ilmu pengetahuan di Negara itu, bahkan nama zawiyah tersebut terkenal hingga bagian utara afrika, kawasan padang pasir dan Afrika bagian tengah.

Hal yang menunjukan besarnya peranan keluarga beliau dalam penyebaran ilmu pengetahuan, sebagaimana yang disebutkan dalam sejarah, bahwa As-Sayyidi Ahmad At- Tijany, merupakan seorang Syaikh di zawiyah besar yang letaknya di ‘Ain Madhi. Sayyidi Ali Harazim Barradah menggambarkan, bahwa Sayyid Muhammad Al Mukhtar adalah seorang guru besar Islam yang menjadi rujukan bamyak orang.

Ibu Sayyidi Ahmad bin Muhammad At- Tijany adalah, Sayyidah Aisyah binti Sayyidi Muhammad As- Sanusi At- Tijany Al Madhawi, sosok ulama yang dikenal dengan keshalehan, kewalian dan kedudukannya yang tinggi di sisi Allah.

Kakek beliau; As- Sayyid Muhammad yang juga biasa dipanggil Ibnu Umar, beliau adalah seorang Alim besar yang hafal Al – Qur’an, dan banyak meberikan lontribusi bagi ilmu syariat dan juga pakardalam ilmu faraidh. Sedangkan kakek beliau yang ketiga : yaiti Ahmad bin Muhammad, merupakan ulama yang ‘Alim, pemukanya para pemimpin, memiliki ahwal yang menunjukan sisi kekuatan, dan cahaya yang selalu terpancar dari dirinya. Begitu pula kakeknya yang ke empat: Muhammad bin Salim, dia merupakan seorang guru besar, wali yang bekedudukan tinggi, sosok yang pancaran caha dan sisi jadzab nampak, bahkan kakek beliau ini kerap menutupi wajahnya saat berjalan menuju masjid, saat kembali ke rumah, hingga sampai di tempat khalwatnya.

sayyidi Ahmad bin Muhammad At- Tijany pernah ditanya tentang kondisi kakeknya yang ke empat itu, beliau berkata: bahwa kakeknya yang ke empat itu telah sampai pada derajat kewalian, orang yang melihat wajahnya, dia kelak tidak mau berpisah dengan sang wali Allah tersebut. Jika orang itu sampai berpisah atau bahkan penglihatannya terhalang untuk dapat melihat wajah sang wali itu, maka yang bersangkutan akan meninggal dunia seketika.

Sayyidi Ahmad bin Muhammad At- Tijany dibesarkan dalam keluarga yang shaleh dan juga merupakan keturunan Nabi Muhamnad yang juga selalu menjaga kehormatan diri. Beliau sangat terkenal dengan kecerdasannya dam memili kemauan diri yang kuat, tidaklah beliau menginginkan sesuatu kecuali beliau pasti mengejakannya, bahkan jika beliau mengerjakannya, maka beliau pun tidak akan berhenti kecuali sampai batas sempurna.

Beliau memiliki akhlak yang terpuji, jiwa yang tenang tapi pasti, beliau pemalu dan penuh dengan adab yang terpuji, penampilannya yang baik dan sosoknya banyak diam, beribawa saat bertutur kata. Beliau telah hafal Al – Qur’an dengan riwayat imam Warsy saat berumur 7 tahun, ditangan seorang pakar qiraat Al- Qur’ an; Sayyidi Muhammad bin Himawi At- Tijany Al Madhawi, yang juga murid dari seorang Syaikh; Al ‘Arif billah Sayyidi ‘ Isa Bu ‘ Akaz Al Madhawi At- Tijany.

Dengan usia beliau yang masih belia, beliau memiliki kekuatan yang besar, baik zhahir maupun batin, memiliki kesempurnaan karunia dan ragam kebaikan.

Ayah dan Ibu beliau meminggal dunia pada hari yang sama dan keduanya di kuburkan di ‘Ain Madhi, hal ini terjadi saat usia beliau masih sebelas tahun.

Terkait dengan postur tubuh Syaikh Ahmad At- Tijany; beliau berjanggut putih dengan sedikit wana kemerahan, postur tubuhnya tegap, berhidung mancung, beralis lebat, keningnya lapang janggutnya terlihat bersinar cerah, memiliki suara yang lantang, lisannya fasih dan tutur katanya enak didengar.

Beliau banyak mempelajari ilmu- ilmu dasar dan cabangnya serta turut belajar ilmu sastra, beliau mempelajari semua ilmu itu di mengertinya, bahkan sampai beliau layak disebut sebagai guru dan dapat memberikan fatwa. Ini semua terjadi sebelum beliau melakukan perjalanan yang pertama ke kota Fess, kemudian beliau melanjutkan perjalanan tersebut ke ‘Ain Madhi, namun di sana beliau tidak tinggal lama, hingga beliau memiliki keinginan untuk berzuhud, menyendiri dan bertafakur. Saat itulah beliau juga semakin cinta akan ibadah dan shalat malam. Hal ini terjadi hingga beliau menginjak dewasa, dimana beliau menjadi sosok orang yang selalu menunjukan jalan menuju Allah SWT, memberikan nasehat kepada para hamba Allah dan juga menggeluti Sunnah Rasulullah SAW, hingga beliau mendapatkan julukan “Muhyyidin,” ( Sang penghidup agama).

Lantas kemudian beliau menggantikan sang ayah sebagai Khalifah di sebuah zawiyah milik sang ayah, sekalipun saat ini umur beliau masih belia, yaitu 16 tahun. Di sana beliau mengajarkan Al-Qur’an dan ilmu- ilmu hadits selama 5 tahun lamanya.

Di saat umur beliau 21 tahun, yauitu tepatnya tahun 1171H/1758M, beliau melakukan perjalanan ke kota Al Idrisiyyah untuk pertama kalinya, disana beliau menyempatkan diri untuk menghadiri beragam majelis ilmu; baik itu yang mengajarkan tafsir, hadits dan fikih, bahkan hingga beliau berhasil mendapatkan beragam banyak ijazah dalam ragam ilmu tersebut. Beliau juga banyak melakukan diskusi dan debat dengan para petinggi ulama Fess. Tak kalah pentingnya , beliau juga mempelajari qiraat sab’ah kepada para pakarnya.

Di tengah perjalanan beliau ini , tepatnya di kota Wazzan, beloau bertemu dengan Al ‘Arif billah Maulaya Ath- Thayyib bin Sayyidi Muhammad bin Maulaya Abdullah bin ibrahim Al ‘Ilmi Al Wazzani, yang merupakan Syaikh thariqah Wazzaniyah, kala itu sang Syaikh memberikan izin untuk mentalqinkan thariqahnya, namun enggan menerima hal tersebut.

Dalam perjalan beliau di area bukit Az-Zabiib, beliau bertemu dengan Al ‘Arif billah, Sayyidi Muhammad bin Al Hasan Al Wanjali, sang Syaikh mengabarkan kepada beliau bahwa beliau akan mendapati derajat Al Quthb Al Kabir Abu Al Hasan As-Syadzili, Syaikh tersebut juga menyarankan agar beliau segera kembali ke negerinya.

Di kota Fess, beliau juga bertemu dengan seorang wali yang shaleh; Sayyidi Abdullah bin Sayyidi Al ‘Arabi Al Andalusi dan sempat berbincang – bincang dengannya dalam beragam permasalahan dan banyak memberikan do’a untuk beliau.

Di kota Tazzah, beliau mengambil thariqah dari seorang wali saleh Al Mulamati; Sayyidi Ahmad Ath-Thawwasy, dimana sang wali ini mentalqinkan beliau suatu asma’, dan meminta kepada Syaikh Ahmad At-Tijany agar selalu menyepi dan menyendiri serta bersabar hingga Allah memberikan futuh kepadanya , beliau pun sempat melazimkan wiridan ini , namun kemudian beliau tinggalkan. Lalu beliau mengambil wiridan thariqah Al Qadiriyyah di Fess, dan kemudian beliau meninggalkannya lagi.

Beliau juga mendapat penggemblengan tarbiyah dalam thariqah An-Nashiriyyah setelah beliau bertemu dengan seirang wali shaleh; Sayyidi Ahmad bin Abdullah At-Tazzani, yang kemudian kembali beliau tinggalkan.

Lalu beliau mengambil wiridan thariqah Ash-Shiddiqiyyah, yang dinisbatkan kepada seorang wali Quthb yang terkenal; Sayyidi Ahmad Al Habib bin Muhammad Al Ghimari As- Siljimasi Ash-Shiddiqi.

Kemudian beliau pulang ke negerinya ‘Ain Madhi, yang perjalanannya melewati kota Al Abyadh; satu kota kecil dari negeri ‘Ain Madhi, di sana bertemu dengan seorang wali Quthb yang terkenal; Sayyidi Abdul Qodir bin Muhammad Al Abyadh, sang Syaikh menawarkan untuknya sebuah rumah dan mengharpan dirinya bisa menetap di tempat tersebut. Di tempat itulah beliau banyak menyendiri untuk beribadah, mengajar dan memberikan manfaat lainnya dalam kurun waktu 5 tahun. Letak tempat ini berada di antara zawiyahnya Sayyidi Abdul Qodir dan negerinya ‘Ain Madhi.

Beliau kembali melakukan perjalanan ke Tilmisan pada tahun 1186H/1772M, dan pada tahun yang sama beliau juga kembali pergi dari Tilmisan untuk menunaikan ibadah Haji ke Baitullah, dan juga menziarahi Nabi SAW. Saat itu usia beliau sudah 40 tahun.

Saat beliau tiba di negeri Zawawah negeri yang berada dalam jalur perjalanan dari Al Jazair menuju Tunis beliau menziarahi seorang Syaikh; Sayyidi Muhammad bin Abdurrahman Al Azhari, sosok ulama yang sangat terkenal, beliau memiliki zawiyah yang besar dan pengikut yang banyak, darinyalah kemudian Sayyidi Ahmad bin Muhammad At-Tijany mengambil wiridan thariqah Khalwatiyyah.

Setiba di tunis pada tahun yang sama , beliau banyak bertemu dengan para wali Allah disana, antara lain; Sayyidi Abdusshamad Ar-Rahawi seorang murid wali Quthb negeri tersebut, sang wali ini tidak pernah mengizinkan seorang bertwmu dengannya. Melalui seorang utusan khusus, sang wali tersebut menyampaikan, bahwa Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany adalah orang yang banyak dicintai manusia.

Beliau pun tinggal di tunis selama satu tahun, pada sebagian waktu beliau tinggal di kota Susah, dan pada sebagian waktu lainnya beliau tinggal di ibukota Tunis. Beliau tinggal di sana dan mengajar beragam buku dan juga berfatwa, di antara buku yang beliau ajarkan adalah, kitab Al Hikam karya Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari. Mulai fari sini, nama beliau pun semakin terkenal, hingga kabar mengenai beliau samapi kepada kepala Negara. Sang kepala Negara mintanya untuk dapat tinggal lebih lama ditunis, yaitu untuk mengakar dan memberikan fatwa, akan tetapi beliau memohon maaf tidak dapat menerima tawaran itu, dan kemudian beliau meninggalkan negeri tersebut dan sampai Mesir melalui jalur laut.

Setiba di Mesir, beliau langsung mencari Syaikh yang terkenal saat itu, yauitu Sayyidi Mahmud Al Kurdi Al Mashri, yang bertempat tinggal di Mesir namun asalnya dari Negeri Irak, untuk menanyakan mimpi beliau saat beliau berada di tunis. Saat bertemu dengannya, Syaikh Mahmud Al Kurdi berkata, “Engkau adalah orang yang dicintai di dunia dan juga di akhirat.” Beliau berkata, ” Darimana engkau tahu akan hal ini?.” Sang Syaikh berkata,” Dari Allah.” Lalu kemudian beliau pun menceritakan apa yang beliau impikan saat berada di tunis. Perkataan yang beliau ucapkan kepada Sayyidi Mahmud Al Kurdi dalam mimpi adalah, ” Semua Dzatku adalah tembaga.” Dan Sayyidi Mahmud Al Kurdi pun dalam dalampi itu berkata,” Maka aku ubah tembagaku itu menjadi emas.”

Setelah beliau menceritakan hal ini, maka Sayyidi Mahmud Al Kurdi berkata,” Itu memang seperti yang engkau lihat, lantas sekarang apa permintaanmu? ” Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany berkata ,” Al Quthbaniyyah Al Uzhma,” ( Derajat wali quthb terbesar). Syaikh Mahmud Al Kurdi berkata,” Bahkan engkau akan mendapatkan lebih dari itu.” Syaikh Ahmad At-Tijany berkata,” Berarti di atas dirimu?” Dia menjawab,”iya.”

Kemudian beliau pergi menuju Makkah melalui jalur laut. Beliau sampao di Makkah pada bulan Syawwal tahun 1197H/1773M. Kala itu beliau mendengar ada seorang Syaikh yang tidak mengizinkan siapapun untuk bertemu dengannya; yaitu Syaikh Abu Abbas Sayyidi Ahmad Abdullah Al Hindi. Sekalipun kondisinya demikian, namun Syaikh Ahmad At-Tijany tetap bisa mendapatkam ilmu, asrar dan luapan cahaya keimanan, sekalipun tanpa adanya proses pertemuan.

Hal ini dilakukan dengan cara saling berkirim surat melalui seorang pelayan yang menghubungkan antara keduanya, yaitu dimana sang Syaikh ini mengirimkan surat kepada Syaikh Ahmad At-Tijany. Beliau menuliskan dalam sebuah surat yang dibawa pelayannya kepada Syaikh Ahmad At-Tijany,” Engkau adalah pewaris ilmu rahasia, pemberian Allah dan luapan cahaya keimananku.” Sang pelayan berkata kepada Syaikh tersebut,” Aku baru denger kata -kata ini terucap setelah aku berkhidmah kepadamu selama 18 tahun.”

Kemudian ada seorang yang datang dari arah Maghrib, seraya berkata,” Dia adalah pewarisku,” maka Syaikh itu berkata dengan mengutip ayat, “Allah menentukan rahmat-Nya (kenabian)kepada siapa yang dikehendaki-Nya.” ( QS.Alu ‘Imran [3]: 73).

Andai aku memiliki pilihan, maka aku akan berikan hali itu kepada anakku terlebih dahulu sebelum dirimu.

Kemudian Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany melakukan perjalanan menuju Madinah untuk menziarahi kakeknya Nabi Muhammad. Setelah berziarah, beliau bertwmu dengan seorang wali quthb yang terkenal, Abu Abdillah, Sayyidi Muhammad Abdul Karim, yang terkenal dengan,” As-Samman.” Sekatika itu, Syaikh Samman inimemberikan izin untuk mengamalkan semua asma (Nama-nama Allah yang memiliki keutamaan dan rahasia di dalamnya). Syaikh Samman ini juga memberitahu beliau terkait perubahan kondisi jiwa yang akan terjadi pada dirinya, bahwa beliau adalah Al Quthb Al Jami.

Setelah beliau selesai menjalankan manasik haji dan berziarah, kemudian beliau kembali pulang ke mesir dan tinggal di rumah seorang wali besar, Sayyidi Mahmud Al Kurdi. Dimana Syaikh Mahmud Al Kurdi ini ingin mentalqinkan beliau thariqah Khalwatiyah, sehingga beliau menyuru banyak orang ke dalam thariqah tersebut serta mentarbiyah mereka dengan ragam wiridan yang ada dalam thariqah Al Khalwatiyyah, namun Syaikh Ahmad A-Tijany menolah hal itu. Syaikh Mahmud Al Kurdi lalu berkata , “Talqinlah orang banyak, dan akulah yang akan menjamin hal itu” Maka beliau menjawab,” Baiklah jika begitu.” Lantas kemudian Syaikh Mahmud Al Kurdi mendoakannya, dan lalu Syaikh Ahmad At-Tijany kembali ke tunis.

Beliau berpindaj dari Tunis ke Tilmisan pada tahun 1188 H/ 1774 M, selama menetap tiga tahun lamanya itu beliau gunakan untuk beribadah dan bemuhajadah . Pada tahun ini, beliau bertemu dengan sang juru tulis dan pemegang asrarnya, Sayyidi Muhammad bin Al Musyri Al Hasani As-Siba’i At-Tikrati, dimana Syaikh Ahmad At-Tijany mentalqinkannya thariqah Khalwatiyyah. Sejak pertemuan ini dan juga sejak Syaikh Al Musyri Menjadi imam dalam shalat beliau, maka sejak ini pula Syaikh Al Musyri menggantikan posisi Syaikh Ahmad At-Tijany dalam menuliskan jawaban dari beragam pertanyaan yang datang. Kondisi seperti ini berlangsung hingga tahun 1208H/1794M. Pada tahun inilah Syaikh Ahmad At-Tijany mulai menjadi imam, seperti yang diperintahkan oleh Nabi.

Pada tahun 1191H/1777M, Syaikh Ahmad At-Tijany sering melakukan perjalanan yang kedua kalinya kesana dimana perjalanan beliau kali ini adalah ingin menziarahi Maulana Idris Al Azhari. Di tengah perjalanan, beliau bdrtemu dengan Sayyidi Ali Harazim Barradah Al Fasi untuk pertama kalinya, dimana Syaikh Ahmad At-Tijany mentalqinkannya thariqah Khalwatiyyah, yanh kemudian pergi bersama-sama ke Fess.

Setelah beliau menziarahi kuburan Sayyidi Idris Al Azhari, beliau tinggalkan Sang Khalifahnya. Sayyidi Ali Harazim di Fess dan beliau kembali ke Tilmisan. Pada tahun 1196H/1781M, Syaikh Ahmad At-Tijany kembali meninggalkan kota tersebut untuk pergi ke Asy-Salalah dan tinggal disana selama tiga tahun, kemudian Syaikh Ahmad At-Tijany pergi lagi untuk tinggal di kawasan Abi Samghun dan berdiam disana. Disana terdapat kuburan seorang wali besar, hal itu yang membuat tempat itu dinamai dengan namanya, Abi Samghun.

Syaikh Ahmad At-Tijany tinggal disana selama 14 tahun, disana beliau mendapatkan futuh yang besar dan derajat kewalian yang palong agung, inilah karunia yang beliau tunggu-tunggu dengan penuh kesabaran. Disela waktu beliau tinggal di Abi Samghun, Syaikh Ahmad At-Tijany selesai pergi ke Tawat bagian barat untuk menziarahi Sayyidi Muhammad bin Al Fudhail dan saling bsrtukaran asrar di antara mereka.

Kemudian Syaikh Ahmad At-Tijany pergi untuk kedua kalinya ke kota Tazah, disana beliau bertemu murid dan sahabatnya; Al Arif billah Sayyidi Muhammad Al ‘Arabi Ad-Damrawi At-Tazi.

Pada tahun 1196H yang merupakan tahun pertama kepergian Syaikh Ahmad At-Tijany ke Abi Samghun, beliau mendapatlan futuh. Nabi memberikan beliau izin secara terjaga dan tidak dalam mimpi untuk mentalqin orang-orang secara umun dam mutlak, dimana Nabi juga lah menentikan wiridan yang ditalqinkan itu.

Wiridan itu berupa membaca istighfar sebanyak 100 kali dan juga membaca shalawat sebanyak 100 kali. Lali tepatnya pada tahun 1200H, Nabi SAW menambahkan bacaan hailalah sebanyak 100 kali dalam wiridan tersebut.

Nabi Muhammad mengabarkan kepada beliau secara terjaga dan tidak kondisi tidur bahwa Rasulullah lah sang guru dan penanggung beliau, seorang tidak akan bisa wushul kepada Allah kecuali melalui Nabi SAW dam juga wasilahnya. Nabi bersabda kepada beliau,” Tidak ada kebaikan sesorang Syaikh pun bagimu, akulah yang memberimu madad. Tinggalkanlah semua yang engkau ambil dari mereka dan lazimkanlah thariqah ini, tanpa perlu berkhalwat dan menyendiri dari khalayak ramai, hingga engkau menggapai derajat yg dijanjikan, dan engkau dalam keadaan itu, tanpa banyak menemui keaulitan dan banyak bermujahadah.”

Setelah Syaikh Ahmad At-Tijany mendapatkam derajat kewalian, beliau lalu pergi ke ‘Ain Madhi dan mbuat zawiyah disana. Namun kala itu beliau masih sering berpergian antara ‘Ain Madhi, Abi Samghun dan Tawat, dimana Sayyidi Ali Harazim sempat menziarahi Syaikh Ahmad At-Tijany di Abi Samghun, tepatnya pada tahun 1203H/1789M.

Sejak tahun 1198H/1783M, semakin banyak orang yang masuk ke dalam thariqah Tijaniyah ini dan semakin tersebar luas. Ketika thariqah Tijaniyah ini menjadi semakin kuat, pemerintahan Turki semakin khawatir terhadap perkembangan ini, maka pada tahun 1199 H / 1784M dan tahun 1201-1202 H/ 1787 M, pemerintahan Turki pun mengirimkan agresi militer ke ‘Ain Madhi dan mewajibkan upeti bagi Syaikh Ahmad At-Tijany dan para pengikutnya. Hal ini pun membuat Syaikh Ahmad At-Tijany terdesak dan mengharuskan beliau pergi dari Fess.

Tepatnya pada 17 Rabi’ul Awwal 1213H/1798M, sultan Sulaiman beserta seluruh petinggi pemerintahan menyambut dengan baik Syaikh Ahmad At-Tijany, bahkan penyambutannya ini pun dilakukan oleh sultan Sulaiman, lantaran dia melihat bahwa sistem pengajaran thariqah At-Tijanyyah ini sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah serta menolak segala ragam bid’ah.

Engkau bisa melihat bagaimana adab sultan Sulaiman terhadap Syaikh Ahmad At-Tijany. Hal tersebut tercermin dalam surat yang sultan kirimkan sebelumnya, pada isi surat itu tertulis,”….Setelah ucapan bismillah dan shalawat terhadap Nabi: Gantikanlah orang tua kami, wahai Sayyidina wa syaikhana wa qudwatina Al Muhammadi; Abul Abbas Sayyidi Ahmad, aku memuji Allah dan bershalawat kepada Nabi-Nya yang terpuji. Telah sampai kepada kami surat anda yang penuh dengan keberkahan, dan kami memuji Allah atas apa yang Allah khususkan kepada kami dengan orang yang diridhai….”

Pada hari senin, tepatnya tanggal 6 Rabi’ut Tsani tahun 1213H/1798M, Syaikh Ahmad At-Tijany sampai di kota Fess, sebuah kota, tempat dimana beliau dirikan sebuah zawiyah. Zawiyah inilah yang kemudian menjadi tempat tinggal beliau terakhir. Beliau tiba di sana bersama seorang sahabat; Sayyidi Ali Harazim. Dengan kedatangan beliau ini segala penjuru negeri Maghrib merasakan keberkahan itu. Saat beliau berada di zawiyah inilah tingkatan kondisi jiwa beliau semakin melesat dan derajat beliaupun semakin meningkat sehinggabeliau mencapai tingkatan Khatmiyyah dan juga mampu menggapai maqam katmiyyah. Tak ada satu ulama pun yang menafikan, bahwa beliau adalah mujaddid abad ke 13H. Hal ini sebagaimana yang pernah diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda, ” Sungguh Allah kelak mengutus setiap seratus tahun, seseorang yang akan memperbaharui tata cara beragama.”

Disebutkan pula dalam riwayat Abu Daud, ” sosok pembaru kita adalah dari golongan Ahl Bait.”

Disanalah orang berduyun-duyun masuk ke dalam thariqah beliau, baik dari kalangan ulama, ahli fikih, para menteri dan rakyat jelata lainnya. Dari kota Fess inilah Thariqah Tijaniyyah mulai tersebar luas hingga sampai pelosok negeri Maghrib, negeri Tunisia dan padang pasirnya, serta Sudah bagian barat.

Di kota Fess ini, pertama kali Syaikh Ahmad At-Tijany bertempat tinggal dirumah leluhurnya Sayyidi Ali Harazim yang beralamatkan di desa Darb Ath-Thawil, nomer 20. Di Masjid Ad-Diwan, yang berada dekat rumah inilah, Syaikh Ahmad At-Tijany banyak menyampaikan pelajarannya, sehingga dari masjid inilah nama beliau semakin terkenal , bahkan kabar ini sampai pula di telinga sultan Sulaiman. Syaikh Abdul Qodir bin Syaqrun seorang petinggi ulama dan petinggi hakim pada masanya dan Syaikh Al ‘Allamah Al ‘Abbas bin Kairan seorang ulama bagi keluarga sang sultan, yang juga merupakan hakim di Kota Mankasy memuji Syaikh Ahmad At-Tijany di hadapan sang Sultan, maka sultan Sulaiman pun mengundang beliau untuk hadir dan menjadi pembicara di dalam majelis sultan. Syaikh Ahmad At-Tijany mulai menampakan sisi keilmuannya yang beliau miliki, baik itu sisi rasional, naql dan ilmu laduni yang membuat semua hadirin tercengang, sehingga orang yang semula mengingkari beliau malah berbalik mencintai.

Kejadian yang menunjukkan keluasan ilmu dan kedalaman pemahaman beliau yang sampai pada taraf mujthid, yauitu bahwa para ulama yang berkumpul di sekeliling sultan adalah ulama yang pakar dalam suatu bidang ilmu pengetahuan, pakar mengajar dan membaca suatu tafsir. Ulama besar yang datang bersama beliau saat itu, di antaranya Syaikh Ath-Thayyib bin Kiran (w. 1227 H), Syaikh Sayyidi Abdul Qodir bin Ahmad bin Al ‘Arabu bin Syaqrun (w. 11 sya’ban 1219H) dimana dari kedua Syaikh inilah sang sultan banyak menimba ilmu, Syaikh As-Sayyid Al ‘Abbasi Asy- Syarayini seorang ulama maqra tersohor. Sang sultan pun sepakat untuk menghadirkan Syaikh Ahmad At-Tijany bersama para ulama yang lainnya setibanya beliau tiba di kota Fess.

Syaikh Ibnu Kairan mengawali majelis sultan itu dengan kalimat pembuka yang biasa dia ucapkan pada awal pertemuan di hadapan sang sultan, hal itu dia lakukan lantaran kemahirannya dalam ilmu zhahir dan nalar. Dia mengemukakan dan kembali menegaskan ucapan itu, dia mengira bahwa tidak ada orang yang memiliki ilmu seperti dirinya, yang mana orang yang hadir pun seolah-olah sepakat dengan dirinya, kemudian sultan Sulaiman menoleh kepada Syaikh Ahmad At-Tijany seraya berkata, ” Lantas bagaimana pendapat Syaikh tentang ayat ini? .” Lalu Syaikh Ahmad At-Tijany pun menerangkan tentang ayat tersebut dengan keterangan yang mencengangkan, bail itu keterangan yang berkaitan dengan ilmu syariat, maupun ilmu nalar, hingga Syaikh dapat menyampaikan penjelasan yang lebih baik dari apa yang diutarakan oleh Syaikh Ibnu Kairan.

Hal ini membuat Syaikh Ibnu Kairan tersentak, Syaikh Ahmad At-Tijany pun menilai bahwa apa yang dilontarkan Syaikh Ibnu Kairan sebelumnya tidak sesuai dengan apa yang seharusnya disimpulkan, dimana Syaikh Ahmad At-Tijany berkata “Apa yang telah disebutkan oleh mufassir ini tidaklah benar, hal itu tidak akan bisa diterima oleh para pemikir.” Syaikh Ibnu Kairan lantas berkata,” Apakah anda ingin menantang kami, yang mengatakan hal itu adalah mufassir fulan dan si fulan,” dimana sang Syaikh At-Thayyib bin Kairan menyalahkan pernyataan Syaikh Ahmad At-Tijany. Syaikh Ahmad At-Tijany lalu mengatakan dalam majelis tersebut, ” Pernyataanku ini tidak tertuju pada anda, juga bukan bagi orang yang membawa beban berat yang engkau giring pada makna yang bukan tempatnya, akan tetapi pernyataanku ini adalah untuk mufassir itu.”

Kemudian Syaikh Ahmad At-Tijany menjelaskan sisi yang benar dengan dalil naqli dan juga ‘aqli, hingga apa yang menjadi keraguannya itu sirna dan tersibaklah kebenaran. Para pembesar ulama yang hadir di dalam majelis ini pun mengakui penjelasan ini, seraya menyatakan, ” Demi Allah, inilah hal yang benar.” Semua menyatakan yang di ucapkan Syaikh Ahmad At-Tijany ini juga didengar oleh sultan Sulaiman, dan setelah penjelasan ini, majelis pun selesai. Para ulama yang mengakui kebenaran penjelasan ini pun mengucapkan terimakasih kepada Syaikh Ahmad At-Tijany.

Kemudian sang sultan bersama sisa orang yang hadir di majelis itu mengadakan percakapan, sultan Sulaiman mengatakan,” Kalian kini telah mengetahui kedudukan dan keunggulannya dalam ilmu zhahir. Sementara mengenai ilmu bathin, maka ilmu bathin itu sejatinya memiliki induk sbernya dan beliau adalah anak dari induk ini, bagaimana menurut kalian ?,” Mereka menjawab, ” Demi Allah pernyataan itu benar dan kebenaran itu pun tersibak dengan jelas

Seorang ulama terkemuka Tunis, Sayyidi Syaikh Muhammad bin Sulaiman Al Manna’i pernah beekata setelah berkumpul di majelis tersebut,” Yang aku liat, bahwa banyak orang mencari alasan untuk dapat mengungkapkan hal yang cocok dengan orang yang hadir dan majelis yang sempurna ini, namun tidak seperti sang Imam yang satu ini, keilmuan nya dalam syairiat laksana lautan yang tak bertepi. Tidak ada seorang yang menandingi beliau dalam beberapa hal yang telah aku lihat sendiri, di antarannya:

* Beliau hafal di luar kepala beberapa buku fikih, di antaranya; Mukhtar Ibnu Hajib, Mukhtashar Asy- Syaikh Khalil, dan Tahdzib Al Barza’i. Ada orang yang menceritakan kepadaku, bahwa beliau dapat menghafal itu semua dalam satu kali dengar, lantas dengan keadaan beliau yang seperti ini, apakah orang yang tidak memiliki wawasan luas itu masih akan menentang pernyataan beliau dalam hal fardhunya wudhu?.

* Diantara buku hadits yang beliau hafal diluar kepala adalah, Shahih Al Bukhari, Shahih Muslim dan juga Al Muwaththa karya Imam Malik.

* Terkait dengan ragam buku Tauhid, Syaikh Ahmad At-Tijany ini hampir mirip dengan Al Ghazali. Dimana semua hati ada pada genggaman Allah, terserah apa saja yang Allah inginkan dari hati tersebut.

Syaikh Ahmad At-Tijany tidak tinggal lama di kediaman keluarga Syaikh Ali Harazim, dimana sultan Sulaiman menghadiakan beliau sebuah rumah, yang dapat dimanfaatkan oleh keluarga beliau. Sang sultan pun telah menetapkan pemberian sejumlah uang untuk keperluan beliau sehari-hari.

Pada awalnya, Syaikh Ahmad At-Tijany enggan menerima ini semua, hingga sang sultan menjelaskan panjang lebar, bahwa itu semua bukan milik Negara, akan tetapi diambil dari harta pribadi sang sultan. Beliau tidak nyaman tinggal di sana sampai Rasulullah SAW menyetujui untuk tinggal disana, dengan dengan syarat mensedekahkan jumlah nominal dari rumah itu, yang disedekahkan kepada orang- orang fakir dan miskin, lalu beliaupun melakukan hal itu.

Syaikh Ahmad At-Tijany berkumpul bersama para sahabatnya untuk berdzikir dan membaca wazhifah di bagian pintu rumah beliau dan terkadang di sebagian masjid yang berada di kita itu, sampai Nabi SAW memerintahkan beliau untuk membangun zawiyah. Akhirnya beliau pun membeli sebidang tanah, yang terletak di kota Fess lama tepatnya di Hay Al Balidah, Syaikh Ahmad At-Tijany beli tanah tersebut dengan uang pribadi beliau. Sebelum dibangunnya sebuah zawiyah, sebidang tanah ini merupakan tanah yang menakutkan dan mengandung mistis, tidak ada orang yang berani memasuki tanah ini sendirian, sebab terkadang tetdengar suara dzikir secara berjamaah yaitu dzikirnya para orang yang majdzub dari penduduk Fess. Selain itu, Syaikh Ahmad At-Tijany juga membeli tanag yang berada di samping tanag sebelumnya untuk memperluas bamgunan zawiyah.

Ada banyak orang yang tidak suka terhadap SyaikhAhmad At-Tijany dan juga mengingkari pendirian bangunan zawiyah ini, hal tersebut sampai membuat Syaikh Ahmad At-Tijany berfikir untu meninggalkan kota Fess dan bertolak ke Syam atau Syiri. Saat sang sultan mengetahui keinginan orang-orang yang mengingkari Syaokh Ahmad At-Tijany dan juga oembangunan zawiyah itu, maka sang sultan mengeluarkan surat perintah untuk melanjutkan pembangunan zawiyah itu sekalipun banyak orang yang mengingkarinya. Tak hanya itu saja, sang Sultan pun mengeluarkan sejumlah harta yang cukup besar guna membantu pembangunanya. Akan tetapi Syaikh Ahamd At-Tijany menanggapi semua permasalahan yang ada dengan sangat santun dan halus, seraya berkat,”Dengan izin Allah, zawiyah ini akan terus berdiri.”

Bangunan zawiyah itu diselesaikan sekitar tahun 1215H/1800M. Beliau pun memberitahu keutamaan dan keberkahan zawiyah ini, dengan perkataannya, ” Seandainya para pembesar orang-orang yang Arif billah itu tahu keutamaan zawiyah ini, maka mereka akan memacu tunggangan untuk segera sampai keaini.” Beliau juga perna berkata,” Shalat di zawiyah ini pasti diterima.”

(SAMAHAH AL IMAM SHOLAHUDDIN AT TIJANI AL HASANI RA)

Sumber: https://web.facebook.com/abunawasmajdub/

Komentar

News Feed